Friday, 8 August 2008

Has My Dream Been Reached (?)

Petang ini, Jumat 8 Agustus 2008, bertempat di Holendrechstraat nomor 7/II 1078 TM kota Amsterdam negeri kincir angin, aku diliputi rasa haru bercampur suka karena telah berhasil menyelesaikan studi Master-ku (MA) di Vrije Universiteit Amsterdam. Aku menerima kenyataan ini sebagai anugerah dari Tuhan yang patut ku syukuri.

Setelah menyelesaikan studi Master (MTh.) di UKDW Jogjakarta tahun 2003, aku kembali ke Kupang dan tidak lagi berharap untuk melanjutkan studi. Ada tiga alasan yang membuat aku pesimis: (1) umurku sudah di atas empat puluh tahun, dan (2) karena itu aku sulit memperoleh beasiswa (3), dan lagi kemampuan belajarku makin menurun. Anakku yang sulung (Imanuel Suwenda , 12 thn) sangat mengerti tentang keadaanku, sampai suatu ketika (Desember 2007) ia berkata: “Bapak barenti sekolah su…! Umur kayak bapak sebaiknya siap biaya untuk anak sekolah...”

Dalam situasi yang tidak menentu seperti yang aku gambarkan di atas, pada bulan November 2005 aku melamar ke IIEF Jakarta untuk diikutkan sebagai penerima bea siswa studi lanjut ke tingkat doktoral. Beberapa bulan kemudian (Mei 2006) aku ditelepon oleh IIEF Jakarta bahwa beasiswa telah tersedia tapi hanya untuk studi Magister. Aku menyatakan bersedia menerima beasiswa tersebut walau hanya untuk program magister. Kemudian aku diundang untuk mengikuti wawancara di Hotel Kristal, Kupang dan pada bulan September 2006 aku diundang lagi oleh IIEF untuk mengikuti kursus bahasa Inggris. Kursus di PPB UI Salemba Jakarta baru berakhir pada bulan Maret 2007.

Pada tanggal 16 April 2007, aku berangkat menuju Belanda bersama teman-temanku: Buyung, Zefri, Azis, Yanni, Amira, Nurman, dan Renvi. (tiga orang teman lainnya, Chaty, Mar, dan Zumroh, baru menyusul pada bulan Juni 2007). Setelah semalam menginap di Bandar Internasional Kualalumpur, kami melanjutkan perjalanan ke Belanda dan tiba di Maastricht pada tanggal 17 April 2007.

Bertempat di Center for European Studies, Universiteit Maastricht, aku mengikuti Pre-Master bersama teman-teman tersebut dan juga beberapa teman lain dari Brasil, Mozambique, India, dan Thailand, selama empat bulan. Aku baru pertama kali mengalami pendidikan di LN sejak itu. Seperti di Indonesia, di mana yang tua ‘dihormati’, maka aku dipilih oleh teman-teman dari Indonesia untuk menjadi Indonesian students representative selama Pre Academic Training (PAT).

Satu hal yang sangat menyedihkan aku alami di Maastricht, yakni ketika hasil IELTS ku (dan beberapa teman) tidak mencapai standard yang diminta oleh Universitas tujuan. Aku tidak bisa tidur. 'Mungkin aku pulang'. 'Dan karena malu, aku pasti tidak kembali ke Kupang,' pikirku saat itu. Tetapi, syukurlah! Ketika aku mengontak professor di VU, ternyata beliau mengambil kebijakan lain: “You have been accepted”, katanya. Berita ini aku terima jauh sebelum teman-teman lain menerima kepastian. Tapi, aku harus sabar karena rasa solider dengan mereka yang tidak mencapai nilai IELTS dan yang belum mendapat kepastian diterima. Dua minggu kemudian kami semua diterima, dan kami berpisah ke masing-masing universitas dengan linangan air mata.

Ceriteranya tidak berakhir di situ. Satu minggu sebelum masuk kuliah, aku dirundung rasa takut. Koordinator program mengirim satu paper assignment (kira-kira berjumlah 14 halaman) dengan pesan supaya segera menyelesaikan paper itu dan menyerahkannya pada tatap muka pertama di kelas. Walau sudah diberi assignment, kami disibukkan dengan hal-hal lain seperti mengurus ijin tinggal di Imigrasi, registrasi, hadir pada acara-acara perkenalan di kampus dan di rumah dosen, dan lain-lain. Waktu untuk membaca buku-buku dan mengerjakan paper benar-benar tersita. Bayang-bayang kegagalan makin menghantui. Terpaksa waktu tidurku ku kurangi. Aku baru menyelesaikan paper perdana itu 10 menit sebelum class dimulai.

Proses perkuliahan di VU tidak jauh berbeda dengan universitas lain di Holland. Pada tatap muka pertama, sang professor menjelaskan tentang silabus MK yang bersangkutan disertai bibliography yang harus dibaca/diringkas sebelum menghadiri kuliah. Biasanya topic bahasan untuk tatap muka pertama disiapkan oleh dosen tapi untuk tatap muka selanjutnya disiapkan oleh mahasiswa. Ketika dosen menjelaskan silabus MK, sekaligus diberi tugas kepada tiap mahasiswa untuk menyiapkan materi pada tatap muka-tatap muka selanjutnya. Materi yang disiapkan oleh tiap mahasiwa harus dikirim melalui email kepada dosen dan masing-masing mahasiswa tiga hari sebelum tatap muka dimulai. Dengan begitu diharapkan dosen dan mahasiswa sudah membaca bahan tersebut dan menyiapkan pertanyaan sebelum memasuki kelas.

Ada beberapa kesulitan lain yang aku alami pada minggu-minggu pertama proses kuliah di VU. (1) Berhubung Ford Foundation belum membayar uang kuliah sesuai dengan jumlah yang ditentukan, maka kartu mahasiswa ku belum bisa diaktifkan, dan karena itu aku tidak memperoleh kode akses ke internet kampus, juga tidak bisa meminjam buku dari Library. Masalah ini baru bisa diatasi setelah dua minggu kuliah berlangsung. (2) Karena keterlambatan pada point pertama, maka aku terlambat memprogram MK. Program MK biasa dilaksanakan melalui ‘blackboard’ menggunakan kode akses internet kampus yang akan diberikan kepada mahasiswa kalau mahasiswa yang bersangkutan sudah melunasi semua pembayaran. (3) Mengakses ‘blackboard’ dengan kode akses yang diberikan kampus itu tidak begitu mudah karena hampir semua computer kampus sudah disetting menggunakan bahasa Belanda, bahasa yang tidak pernah aku pelajari sebelumnya. (4) Aku juga mengalami kesulitan untuk mengikuti sharing di kelas karena masalah bahasa. Aku lebih mengerti kalau orang Belanda ngomong daripada orang asal Amerika dan beberapa Negara Africa. Mereka mempunyai cara pengucapan yang berbeda dan tidak cocok dengan memoriku. Aku baru bisa mengikuti kuliah dengan baik pada bulan kedua dari masa perkuliahanku.

Di samping kesulitan-kesulitan tersebut, aku juga punya pengalaman-pengalaman menarik, misalnya: (1) jarak antara dosen dan mahasiswa hamper-hampir tidak ada. Dosen bisa disapa dengan nick name saja. (2) Pendapat seseorang dihargai tinggi. (3) Disiplin waktu. (4) Belajar mandiri tanpa disuruh oleh orang lain. (5) Belajar dengan mahasiswa dari banyak bangsa di dunia benar-benar memperkaya ku.

Sedikit mengenang ke belakang. Pada pertengahan bulan Pebruari dan Maret 1992, aku sakit keras dan menginap di Bangsal 3 RSU Prof. Dr. W. Z. Johanes Kupang selama hampir tiga minggu. Menjelang sembuh aku bermimpi kalau aku sedang berjalan di atas bukit-bukit awan pada sebuah kutub bumi. Sejak itu aku bertanya-tanya: apa makna di balik mimpi tersebut? Di kemudian hari, pada tanggal 29 Juni 2008, kira-kira 2 jam sebelum tiba kembali di Amsterdam, aku melihat gumpalan-gumpalan awan tebal di kutub Utara dari atas pesawat Malaysia Air, dan aku mengenang kembali mimpi ku di awal tahun 1992. Tanpa sadar air mata ku menetes ke atas kedua pelipis ku dan hatiku berbisik: “Terima kasih Tuhan, karena rencana-Mu sangat indah”.

Rasa haru bercampur suka kembali ku alami malam ini ketika aku membaca komentar dari dua orang professor yang sudah membaca thesis ku. Komentar pertama dari Prof. Dr. J. Hans de Wit, supervisor ku di VU:

Dear Welfrid,

I finished reading your thesis. I must say I like it very much. The empirical part is well elaborated, nice and instructive answers of the respondents. The cultural component comes nicely to the fore. It is consistent, with a nice structure and good argument. The language is good, concise and has only some minor things to improve. My compliment for all this. You did a wonderful and fruitful job, promising for the future and for elaborating this kind of contextual Indonesian hermeneutics much more.

Warm regards,
Hans de Wit

Komentar kedua dari Prof. Dr. Kaas Spronk dari Kampen Univesity:

Dear Welfrid,

Thank you very much for your thesis and congratulations with finishing this at first sight very interesting work. I will be happy to talk with you and Hans de Wit about your plans for future studies. I am very interested in working with you.

With kind regards,

Klaas Spronk

Tuesday, 25 September 2007

AKANKAH DUNIA KIAMAT PADA 10 NOVEMBER

Beberapa bulan terakhir ini kita dikejutkan oleh secarik brosur berjudul: Kiamat Dunia Segera Akan Terjadi. Brosur ini ditulis oleh seseorang yang menyebut diri Paulus II, Rasul Allah di Akhir Zaman. Dia yang beralamat di Jl Pasirmalang 37 Bandung Selatan Jawa Barat ini memastikan bahwa Akhir Zaman akan tiba pada tanggal 10 November 2003 tepat pukul 09.00-15.00 (WIB). Waktu itu gereja Tuhan akan diangkat dan roh anti Kristus mulai memerintah dunia.

Bagaimana sang ‘rasul’ tiba pada kesimpulan itu? Ia menjelaskan, bahwa dirinya telah berdialog langsung dengan pribadi Roh Kudus selama 36 jam tentang akhir zaman. Dan Roh Kudus meminta kepadanya untuk berpuasa (pantang makan dan minum) selama 30 hari, 40 hari, dan 3 hari 3 malam. Sulit, ya memang! Tapi tak perlu risau, sebab sang ‘rasul’ sudah biasa puasa.


Lalu bagaimana jika Akhir Zaman tidak terjadi pada tanggal 10 November 2003? Ditegaskan bahwa Allah bukan manusia sehingga Ia berdusta (Bil 23:19). Kalau Allah berdusta atau menunda kedatangan-Nya sesudah 10 November maka pasti manusia tidak akan percaya lagi akan berita kedatangan-Nya. Karena alasan itu maka sang rasul Bandung ini menegaskan, kiamat pasti tiba tepat pada waktu yang sudah ditentukan.

Kalau begitu apa yang diharapkan oleh Rasul Dunia ini? Ia menulis: ”BERTOBATLAH! Masuk Pondok Nabi (maksudnya: datang ke Bandung, penulis) supaya bisa mendengar suara Tuhan”. Dan lanjutnya: “Jikalau anda pun rindu untuk mendengar pernyataan Allah tentang tanggal 10 Nov 2003, syaratnya adalah anda harus dibaptis Roh Kudus dengan tanda berkata-kata dengan berbagai-bagai bahasa sebagaimana yang diilhamkan Roh Kudus, dan setelah itu anda pun akan mendengar langsung dari Tuhan”.

Mau coba? Silahkan! Tapi bukan baru kali ini kita mendengar ramalan tentang kiamat. Pada paroh kedua dekade 1980-an sekelompok sekte kristen di Amerika membuat ramalan yang sama. Tahun 1990-an di Korea Selatan juga muncul ramalan serupa. Tapi Tuhan selalu tidak jadi datang pada tanggal yang ditentukan. Di pertengahan tahun 2003 ini kiamat dunia dikumandangkan sekali lagi. Menarik bahwa kali ini justru ramalan itu datang dari seorang warga negara Republik Indonesia yang menyebut dirinya sebagai Rasul dan Nabi Dunia. Sang ‘nabi’ ikut mencela ramalan-ramalan sebelumnya sebagai tipu muslihat akal manusia. Sedangkan kali ini, katanya, Allah langsung berbicara kepadanya melalui Roh Kudus dalam suatu dialog dan ini pasti terjadi. Percaya ko sonde?

Rupanya sejumlah kalangan menanggapi secara serius akan isi brosur tersebut. Beberapa orang kristen asal Kupang telah menjual seluruh hartanya dan berangkat ke Bandung untuk menanti akan tibanya hari kiamat. Tetapi sayang. Sebagian terpaksa kembali pada pertengahan Juni lalu karena kehabisan bekal. Setiba di Kupang, mereka panik, bingung, sedih karena mereka harus mulai lagi dari nol. Siapa yang salah? Tidak ada yang layak dipersalahkan. Dalam brosur itu Paulus II menulis bahwa tentang kedatangan-Nya, Tuhan tidak berbicara kepada para Pendeta dan para Sarjana atau Master Teologi kecuali kepada Rasul dan Nabi-Nya yang ada di Bandung. Karena itu anggota dan Majelis jemaat yang sempat ke Bandung, pergi tanpa konsultasi dengan para hamba Tuhan ini karena mereka dianggap tidak tahu-menahu tentang hari kiamat.

Saya tidak menganggap enteng akan ‘nubuat’ yang disampaikan itu apalagi dengan menyebut nama Tuhan. Kita semua sependapat bahwa memang ada suatu waktu yang Tuhan persiapkan untuk kedatangan-Nya. Tetapi kapan dan dengan cara bagaimana, tidak cukup bukti pada Alkitab yang bisa dipakai sebagai acuan. Itu sebabnya jika ada pihak yang sampai menentukan waktu pasti maka kita merasa aneh. Sebagai orang Kristen kita mendapat pesan Yesus dalam Injil supaya tetap waspada dan tidak berhenti menilai secara kristis setiap berita yang datang dari pihak manapun. Yesus berkata: "Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka (Luk 21:8). Mempertegas kata-kata Yesus itu, Yohanes menulis: Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia (1 Yoh 4:1).
Dalam rangka pengujian roh itulah maka (sambil memohon bimbingan Tuhan) saya ingin menjelaskan keyakinan saya sebagai berikut: pertama, tidak ada seorang manusia atau malaikat pun yang diberi ijin atau pun hak oleh Allah untuk menentukan secara pasti hari kiamat itu. Yesus yang kita yakini sebagai Tuhan telah berkata dengan jujur: “Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja"(Mrk 13:32). Kalau Anak Allah sendiri tidak tahu tentang hari kiamat apatah lagi kita manusia. Allah mempunyai hak istimewa untuk menentukan hari kiamat. Sebab itu usaha (bergumul) untuk mencari tahu kapan tiba waktunya adalah usaha yang sudah melampaui batas-batas wewenang kita sebagai manusia. Ia telah menerobos masuk ke dalam wilayah kewenangan Allah. Siapa berani?

Kedua, untuk membenarkan pendapatnya, Paulus II mengutip 1 Korintus 2:10. Dikatakan, Roh Kudus lah yang tahu akan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah maka Roh Kudus juga lah yang kemudian memberitahukan segala rahasia itu kepada manusia, termasuk hari kiamat. Padahal nats yang dikutip itu tidak berkaitan dengan hari kiamat. Di dalam 1 Korintus 2:10 Rasul Paulus menjelaskan kepada musuh-musuh Injil di Korintus tentang hikmat Allah yang tersembunyi dan yang telah dinyatakan di dalam Kristus melalui kelahiran, kematian dan kebangkitanNya. Roh Kudus berfungsi untuk menjelaskan kepada para pendengar tentang rahasia kehadiran Kristus di dunia supaya para pendengar menerima-Nya. Jadi ayat itu tidak berbicara tentang fungsi Roh Kudus untuk membuka rahasia hari kiamat.


Ketiga, jika Allah merahasiakan hari kiamat, maka sebetulnya Allah menghendaki agar manusia jangan berpura-pura. Sebab mengetahui secara pasti hari kiamat itu hanya akan menciptakan manusia-manusia munafik. Karena jadwal kiamat mendekat lalu orang rame-rame bertobat. Para koruptor tiba-tiba menjadi donatur-donatur terkenal; orang jahat klas kakap tiba-tiba menjadi sangat saleh; bangku-bangku gereja yang kosong melompong tiap minggu tiba-tiba terisi. Lalu jika nanti di tanggal 10 November tak terjadi sesuatu maka mereka akan kembali menjadi manusia yang lebih jahat bahkan boleh jadi rela menelan hidup-hidup akan sesamanya. Padahal seharusnya kita tahu bahwa kita mesti bersedia setiap saat untuk menyambut kedatangan Tuhan (Mat 24:44).
Keempat, orang kristen yang terus-menerus berpikir mengenai kedatangan Tuhan akan cenderung meningkatkan aktifitas ibadah mereka. Itu hal yang positif. Tetapi sebaliknya mereka tidak akan serius belajar, tidak akan serius bekerja dan jarang mengambil bagian dalam karya-karya sosial. Mereka bersikap pasif dan tidak bekerja karena, mereka pikir, toh semua yang diusahakan akan lenyap seketika pada hari kiamat yang kian dekat. Karena tidak serius bekerja maka untuk kebutuhan perut, mereka menjadi beban bagi keluarga dan anggota masyarakat lainnya. Di Tesalonika Rasul Paulus pernah berjumpa dengan sekelompok orang yang sedang menanti kedatangan Tuhan dan tidak mau bekerja. Kepada mereka Paulus dengan tegas berkata: “jika seorang tidak mau bekerja janganlah ia makan” (2 Tes 3:10).
Kelima, entah sudah berapa kali gereja dicela oleh pihak luar karena ada sejumlah oknum anggota berlagak seolah-olah mengetahui hari kiamat. Ternyata hari kiamat tidak kunjung tiba. Sementara itu kita menghadapi kenyataan bahwa terjadi perang di berbagai penjuru dunia, bencana alam, kecelakaan pesawat, dan berbagai bentuk musibah yang nota bene menelan ribuan korban manusia yang tak berdosa. Kenyataan ini mendorong lahirnya refleksi baru tentang makna kiamat. Bagi kita kiamat tidak harus berarti akhir dari dunia. Karena kiamat sudah dan sedang datang kepada kita seorang demi seorang saat kita mati, seperti tertulis dalam Injil Matius: “Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan” (Mat 24:40-41). Kalau begitu maka persoalannya bukan pada kapan kiamat tiba, tetapi bagaimana seharusnya kita hidup dan berkarya sambil bersiap diri untuk menyongsong kiamat kita masing-masing.***

Wednesday, 8 August 2007

KEYS TO SUCCESS AT A WORKPLACE

It is generally accepted that job commitment is the key to success. By commitment or mental ability, someone has responsibility to do something. While I agree that job commitment is a key to success, I would argue that job commitment is not always the key to success. Other keys to achieve success are skill, atmosphere, and reward.

A job needs skill of its workers. Skill is the answer to the question: what kind of capacity that a worker has to have when he/she wants to do a kind of job. For example, as an advertiser the worker have to know about many things related to advertising, such as brand/kind of products, the user group, and method how to make sure the people to buy the products. More buyers, more money he/she gets. So, a skilled worker will give more supports (money) than an unskilled worker.

Atmosphere is also a key to success. A worker needs good atmosphere at work place. Good relationship with manager and other workers is a key to gain success. That is to say that if a worker has a bad relationship with others, there is not guarantee that he/she will get success.

At last, a worker needs a salary that is balanced with his/her workload. Workers needs not only money but also justice. In other words, a highly responsible worker has to get a high amount of salary, while a low responsible worker with low responsibility gains a low amount of salary too. A worker who gets a balanced salary will do his/her task with his/her entire heart and gain success.

In summary, I tend to say that commitment, skill, atmosphere, and reward are aspects that enable a worker to be successful at work.

Thursday, 19 July 2007

Perempuan Dalam Pandangan Kristen

Rasanya tidak tepat kalau kita berbicara tentang perempuan tanpa menyinggung tentang laki-laki. Tidak ada maksud untuk memisahkan apalagi mempertentangkan keduanya dalam tulisan ini. Kalau perempuan menjadi titik sorot itu hanya karena perempuanlah yang paling sering mengalami kekerasan baik dalam lingkup rumah tangga, dalam lingkungan budaya, maupun dalam lingkup organisasi kemasyarakatan. Fokus tulisan ini terarah kepada bagaimana pandangan Kristen (baca: ajaran Alkitab) tentang perempuan dan bagaimana pandangan itu mendorong perjuangan perempuan Kristen untuk mencapai kesetaraan gender.

Alkitab mengatakan bahwa Allah menciptakan perempuan dan laki-laki menurut gambar dan rupa Allah: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej.1:27). Maksud dari ungkapan ‘menurut gambar Allah’ dalam ayat ini tidak dalam arti bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta. Ungkapan itu lebih berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk mulia, kudus, dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, serta layak menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin bagi segala makluk (Kej.1:28-30). Status se-“gambar” dengan Allah dimiliki tidak hanya oleh laki-laki, tetapi juga oleh perempuan. Kedua pihak punya status yang sama. Sebab itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya karena perbedaan jenis kelamin.

Jika demikian mengapa muncul diskriminasi dan dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempaun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa.

Dalam perkembangan selanjutnya peranan perempuan mulai dibatasi. Budaya Yahudi tidak banyak memberikan peluang kepada perempuan untuk berkiprah. Ada sejumlah tokoh perempuan yang muncul dalam sejarah Israel, tetapi peran mereka sangat terbatas. Di antara mereka ada Miryam, saudara perempuan nabi Musa. Miryam juga dipakai Allah sebagai nabiah. Ia dan Harun menegur Musa saat Musa kawin lagi dengan perempuan Kush. Meskipun Miryam dan Harun bersama-sama mengajukan protes namun Miryamlah yang mendapat hukuman. Terjadi semacam diskriminasi hukum antara laki-laki dan perempuan (Bil. 12). Diskriminasi itu juga terjadi ketika orang kawin. Dalam budaya Israel seorang suami bisa mengambil istri lebih dari satu orang (polygamy). Tetapi seorang istri tidak diperkenankan untuk mengambil suami lebih dari satu orang (poliyandry). Pada saat seorang perempuan melahirkan anak juga terjadi diskriminasi. Jika perempuan melahirkan anak laki-laki ia dianggap najis selama empat puluh hari. Sedangkan jika yang lahir adalah anak perempuan, maka ibu anak itu dianggap najis selama delapanpuluh hari (Imamat 12). Dua perempuan Israel yang dianggap mujur yakni Deborah---menjadi nabiah dan hakim di Israel---dan Ester sebagai permaisuri Raja Ahazweros (Hak. 4:4dst; Est 8).

Pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang disriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Fasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: “Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini”. Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).

Dalam pelayanan-Nya, Yesus banyak menaruh perhatian kepada orang-orang yang dianggap sebagai ‘sampah’ masyarakat, termasuk di dalamnya beberapa perempuan. Salah satu di antaranya adalah Maria dari Magdala. Yesus menyembuhkan Maria dari ikatan roh jahat. Kemudian Maria dan beberapa perempuan lain mengiring Yesus dalam pelayanan-Nya (Luk 24:10). Lagi-lagi Yesus membela posisi perempuan ketika sejumlah orang Farisi datang kepada-Nya dan bertanya:”Apakah seorang suami bisa menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Yesus menjawab mereka kata-Nya: sejak semula perkawinan hanya terjadi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan (Adam-Hawa). Perceraian hanya bisa terjadi jika salah satu di antaranya berbuat zinah. Lalu orang-orang itu bertanya lagi: “Kalau begitu mengapa Musa mengijinkan seorang suami membuat surat cerai (talak)”? Lalu Yesus menjawab: karena ketegaran hatimulah Musa melakukan hal itu. Tapi seharusnya tidak demikian (Mat 19:1-12). Karena komitment-Nya terhadap kesetaraan perempuan dan laki-laki, maka pada saat Yesus mati di salib, banyak perempuan ada bersama-sama dengan Dia serta mengunjungi kubur-Nya.

Perjuangan menentang diskriminasi dan menegakkan hak-hak perempuan tidak berakhir pada saat Yesus terangkat ke langit. Perjuangan itu terus berlangsung dari abad ke abad. Umumnya orang mengakui bahwa perjuangan yang cukup sengit dimulai pada abad ke-18, terutama sesudah berakhirnya Revolusi Amerika (1775-1783) dan Revolusi Perancis (1789-1799). Kedua revolusi itu berhasil menanamkan nilai-nilai: kemerdekaan, kesetaraan, dan persaudaraan antara semua penduduk. Momentum ini dipakai oleh kaum perempuan untuk menuntut kesamaan hak dengan kaum lelaki. Selanjutnya pada tahun 1960-an terjadi gelombang protes anti perang dan perjuangan hak-hak sipil yang terjadi di Amerika Utara, berikut di Australia, dan di seluruh Eropah. Kesempatan itu dianggap tepat untuk memperjuangkan kesamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Yang menarik perhatian kita sekarang, bahwa gerakan memperjuangkan kesetaraan gender sudah menjadi gerakan yang mendunia. Ia bukan hanya merupakan usaha dari kelompok agama tertentu, tetapi sudah menjadi gerakan bangsa-bangsa atas alasan kemanusiaan dan keadilan gender. Tentu kita mendukung semua perjuangan semacam itu.

Kapan ideologi kesetaraan dan kemitraan antara perempuan dan laki-laki itu benar-benar menjadi milik kita bersama? Kita belum bisa pastikan, kapan perjuangan itu tercapai. Jika di Republik ini masih ada perempuan yang menangis karena mengalami siksaan suami, atau karena diperkosa, atau karena ditinggal pergi oleh suami, atau karena hak-hak politiknya dibatasi, atau karena dijual sebagai budak seks, atau karena dipaksa untuk mencari nafkah bagi suami dan anak-anak, maka itu pertanda bahwa perjuangan ini belum berakhir. Meksi demikian kita optimis bahwa satu kali kelak badai akan berlalu. Perempuan akan duduk bersama dalam semangat kesetaraan dengan kaum laki-laki. Tugas kita sekarang adalah menyadarkan semua pihak bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama adalah makluk ciptaan Tuhan yang mulia. Yang satu harus menerima yang lain sebagai mitra yang setara dan bekerja sama untuk kesejahteraan bersama. Semoga! ***


Keterangan: Artikel ini pernah dimuat dalam majalah INFO SULSEL vol.3 No. 4 Desember 2006.

GLOBALISATION’S IMPACTS ON FAMILY LIFE

Some people think that globalization is a dangerous virus that has infected many aspects of life, such as economy, politics, social-cultural, etc. It strongly attacks the strength of body, especially family life. Globalization, therefore, is refused, denied, or rejected by many people. Meanwhile, some people argue that globalization is the way that helps people to reach a great joy of life. Family, as a former institution of life, has many advantages from the so-called globalization. It is true to say that globalization actually has two sides of effects, negative and positive.

On one hand, there are some negative aspects of globalization. First of all, globalization offers a consumerist style of life. By using the power of advertisement, TV displays many kinds of food (Mc Donalds, KFC, and AW), beautiful clothes, luxurious cars (BMW) and houses, etc. Family members are forced to buy some things not because of neediness but of willingness. They spend more money to obtain satisfaction. In addition, globalization changes people’s way of thinking from communal to individualistic. For instance, in the past, all members in a house participated in preparing food and sat together to eat, but now each family member has his/her own choice of food; he/she can eat outdoors or indoors. Each member has his/her choice of clothes, films, or programmes on TV as well. Furthermore, globalization prepares many ways through which narcotics are promulgated to all over the world, and then to household members. Drug abuse threatens family members in Indonesia. Finally, globalization can also cause broken homes. By using cell-phones, a husband or wife can make contact easily with another spouse (in workplace) and end his/her relation with his/her spouse.

On the other hand, globalization can also cause several positive things. First, the development of communication technology has given benefits to many aspects of life. International networking (internet) shares information which can be accessible by people any where and at any time. Children can be guided to use the internet as a medium of studying. At the same time, globaliza-tion of information has brought several social values such as human rights and democracy. These norms are useful not only for social and political needs, but also for family life. Human rights awareness has encouraged people to give a balanced position between males and females, and between parents and children as well. Formerly, females and children did not have the opportunity to make decisions in a household, but now they have it. Finally, the acceleration of the development of communication, information, and transportation, has given the opportunity to people to know each other in the same world. Relationship and marriage with couples from overseas has formed Indonesian families to become global families. Although they are in Indonesia, they have family from different countries.

To sum up, globalization can be regarded as a knife in a hospital. It can be used by pick pockets to kill someone, but it also can be used by a surgeon to treat injuries or diseases in people. Therefore, globalization has to be seen not only as a dangerous virus that threatens people’s live’s, but also as an opportunity to make life become more meaningful. ***

Monday, 2 July 2007

D A N I E L

Latar belakang
Pada tahun 587 BC., Nebukadnezar raja Babel (sekarang wilayah Iran) menyerang dan menduduki tanah Yehuda (sekarang Israel). Waktu itu Yoyakim, raja Yehuda, baru tiga tahun memerintah di Yehuda. Ketika Nebukadnezar hendak kembali ke Babel, ia membawa serta empat pemuda tawanan Yahudi yaitu Daniel, Hananya, Misael dan Asyaria. Keempat pemuda itu dididik selama 3 tahun untuk kemudian bekerja di istana Nebukadnezar di Babel. Pokok penting yang mereka pelajari adalah tulisan dan bahasa Kasdim. Setelah mengikuti pendididkan di istana dan mengikuti testing, ternyata keempat orang Yahudi ini menunjukan prestasi yang luar biasa. Kecerdasan mereka, kata kitab Daniel, adalah sepuluh kali lebih tinggi dari semua orang pintar di Babel.

Keunikan kepribadian Daniel
Keempat orang muda tadi punya pengetahuan dan kecerdasan yang luar biasa. Mereka hidup di istana tapi makanan mereka sangat sederhana: makan sayur dan minum air. Mereka cukup sehat walau hanya makan sayur dan minum air. Yang unik pada Daniel khusunya yakni ia bisa mengartikan berbagai rahasia penglihatan dan mimpi (Dan 1:17). Kecerdasan dan keunikan Daniel sangat menentukan peningkatan karirnya di istana Susan.

Pekerjaan Daniel selanjutnya
Saat Nebukadnezar wafat, anaknya Belsyasar menggantikan ayahnya menjadi raja. Pada masa pemerintahan Belsyasar itulah Daniel diangkat menjadi pendamping raja/orang ketiga dari raja (5:29). Pangkat itu ia terima sesudah ia menafsirkan tulisan di dinding: mene-mene-tekel-ufarsin. Pada malam penganugerahan pangkat kepada Daniel, raja Belsyasar mangkat. Lalu seorang raja asing, Darius dari Media, menyerang dan menduduki Babel. Kemudian raja Darius mengangkat seratus dua puluh wakil raja dan ditempatkan di seluruh propinsi. Lalu diangkat tiga orang pejabat tinggi. Salah satu di antaranya adalah Daniel. Karena Daniel jauh lebih menonjol dari kedua pejabat tinggi yang lain, maka raja berencana untuk mengangkat dia menjadi kepala untuk seluruh pemerintahan. Rencana ini menuai kritik terselubung dari berbagai pihak karena Daniel bukan orang aseli alias pendatang. Daniel menghadapi semacam krisis dalam karirnya sebagai pegawai negeri, pejabat tinggi negara.

Tantangan yang Daniel hadapi
Sebagai orang buangan dari Yehuda, karir Daniel tidak begitu mulus. Karirnya yang terus meningkat menimbulkan kecemburuan berbagai pihak. Akhirnya muncul konspirasi tingkat tinggi untuk menggeser Daniel. Beberapa wakil raja, mentri dan bupati berhasil menggolkan suatu keputusan raja, yang melarang siapa pun untuk menyembah dewa lain, kecuali raja Darius. Ketentuan itu berlaku selama tiga puluh hari. Sanksi hukum yang diberikan bagi orang yang melanggar keputusan ini adalah hukuman mati dengan cara memasukan terhukum ke dalam gua singa. Mereka yakin bahwa Daniel pasti tidak mentaati keputusan itu sehingga ia dapat dihukum mati. Popularitasnya berakhir dan jabatannya bisa beralih kepada orang lain.
Sikap Daniel terhadap keputusan rajaDaniel bersikap membangkang. Dalam kitab Daniel 6:11 dikatakan: “setelah Daniel mendengar bahwa surat perintah itu telah keluar, dia pulang ke rumah. Setiba di sana ia naik ke tingkap rumah paling atas dan terus berdoa dan bernyanyi seperti biasanya, 3 kali sehari.” Saudara sudah tahu resikonya bukan? Para penegak hukum melaporkan ketidakpatuhan Daniel kepada raja sehingga Daniel diadili dan dijatuhi hukuman mati. Ia dimasukkan ke dalam gua singa. Tetapi, selama ia ada di dalam gua singa, tak satupun singa yang menerkam dan membunuhnya. Hingga akhirnya raja mengeluarkan Daniel dari gua singa dan memaklumkan kebesaran nama Allah kepada seluruh penduduk negeri itu.

Pelajaran apa yang kita peroleh dari ceritera Daniel?
1. Daniel membina relasi intens dengan Tuhannya melalui doa, pujian dan penyembahan secara teratur. Daniel juga tidak pernah menyangkal imannya walaupun dalam keadaan bahaya. Ia menyembah Tuhan dalam doa dan pujian sebanyak 3 kali sehari. Sikap seperti ini patut kita teladani.
2. Daniel mencapai gelar/jabatan yang cukup tinggi karena ia betul-betul memacu diri untuk berprestasi melalui belajar dan membangun kualitas moral/akhlak yang tinggi. Cara berjuang seperti ini perlu kita teladani.
3. Kalau Daniel ditempatkan pada posisi untuk mengambil keputusan, apakah lebih taat kepada Tuhan atau kepada manusia, maka ia akan lebih memilih taat/tunduk/takut kepada Tuhan. Daniel hanya mau tunduk kepada atasan kalau aturan/ keputusan yang dikeluarkan oleh atasannya itu tidak bertentangan dengan nilai agama yang ia yakini. Sebaliknya ia menolak untuk mematuhi keputusan seperti itu (sikap kritis) kalau keputusan itu bertentangan dengan nilai iman yang ia yakini. Itulah Daniel. Ia tidak takut dipecat karena ia menganut pola hidup sederhana: makan sayur dan minum air. Itu sebabnya Tuhan melindungi Daniel dan memberikan kemenangan baginya ketika ia menghadapi mulut singa dan mata pena sang pendendam. Amin.

PEMBAHARUAN BUDI

Pengantar
Surat Roma ditulis oleh rasul Paulus kepada orang kristen di Roma. Roma adalah ibu kota kekaisaran Romawi waktu itu. Sebagai ibu kota atau pusat pemerintahan, sudah tentu Roma juga menjadi pusat perdagangan/bisnis, pusat pengembangan dan kemajuan di bidang IPTEK serta berbagai bidang lainnya. Sudah pasti jemaat Roma dipengaruhi oleh gaya hidup kota dengan segala dampaknya, baik positif maupun negatif. Pada masa Paulus melayani, orang kristen di Roma tergolong kelompok minoritas. Karena itu seorang rasul seperti Paulus selalu berpikir tentang bagaimana warga jemaat yang minoritas ini dibimbing supaya dapat hidup dan tetap mempertahankan iman kepada Kristus di tengah-tengah keramaian dan kemajuan kota. Itulah kira-kira maksud utama dari surat ini.

Pesan dan Nasihat
Surat ini berisi banyak pesan dan nasihat. Dua ayat yang kita baca tadi merupakan nasihat yang berkaitan dengan persembahan tubuh dan pembaharuan budi.

1. Persembahan tubuh (ayat 1)
Nasihat supaya mempersembahakn tubuh mengingatkan kita tentang tradisi pemberian persembahan oleh orang-orang Yahudi pada masa Perjanjian Lama (PL). Umat PL mempersembahkan jasad hewan (domba, kambing, burung) sebagai persembahan bagi Tuhan. Hewan ternak dipersembahkan sebagai ganti persembahan diri dari pemberi persembahan. Tuhan menerima persembahan hewan ternak sebagaimana Tuhan menerima si pemberi persembahan. Tetapi dalam ayat ini yang diminta bukanlah persembahan jasad hewan (yang mati) melainkan tubuh manusia sebagai persembahan yang hidup dan yang dikenan Allah. Nasihat Paulus tentang persembahan tubuh terinspirasi oleh persembahan tubuh Kristus di atas kayu salib. Yesus rela mempersembahkan tubuh-Nya di atas kayu salib untuk mengampuni dan menebus dosa seluruh umat manusia. Kalau Kristus mempersembahan tubuh untuk keselamatan kita maka kita juga dinasihati untuk mempersembahkan tubuh bagi Tuhan. Masalahnya adalah bagaimana cara mempersembahkan tubuh?

Pada hemat saya ada dua cara: pertama, menjaga anggota-anggota tubuh kita dari perbuatan-perbuatan tercela. Mengapa? Karena di dalam PL persembahan yang kudus dan yang dikenan Allah adalah persembahan hewan ternak pilihan yang tidak mempunyai cacat fisik (sakit, kurus, timpang, buta). Karena itu mempersembahkan tubuh mengandung pengertian rohani, yaitu menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang ternoda dan yang memalukan. Kedua, mempersembahkan tubuh juga menuntut supaya kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah dan yang membawa kemuliaan bagi Allah.

Kedua hal tersebut terrangkum dalam Roma 6:13 “Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran”. Itulah yang dimaksudkan Paulus ketika ia berbicara tentang persembahan tubuh.

2. Pembaharuan budi (ayat 2)
Bukan hanya persembahan tubuh/fisik. Dalam ayat 2 Paulus menginginkan agar persembahan tubuh juga dibarengi dengan pembaharuan budi. Yang dimaksudkan adalah reformasi dari dalam diri manusia, yakni akal-budi atau jiwa manusia. Bukan dandanan lahiriah yang diutamakan tetapi dandanan batiniah. Bahasa Yunani yang dipakai dalam ayat ini yakni proses metamorfose, yakni reformasi dan transformasi dari dalam. Ini terasa amat penting karena dalam pengalaman keseharian kita terlihat bahwa banyak terdapat kemunafikan beragama. Maksudnya, orang sangat aktif melaksanakan kegiatan-kegiatan rohani tetapi pikiran dan perbuatan mereka dituntun oleh niat hati yang jahat. Perbuatan yang nampak seharĂ­-hari di tempat-tempat kerja jauh berbeda dan bahkan bertentangan dengan nilai-nilai rohani yang diajarkan dalam setiap agama. Orang gandrung beragama tetapi hidupnya jauh dari nilai-nilai moral yang diajarkan oleh agama yang bersangkutan. Mereka hidup di dalam dunia dan berlaku sama dengan dunia. Mereka mengambil sikap konformitas (meniru nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat) ketika berhadapan dengan dunia. Akhirnya mereka melakukan hal-hal yang tidak pantas dilakukan oleh orang-orang kristen. Paulus menasihatkan supaya orang kristen sungguh-sungguh membaharuai akal-budi agar mereka dapat membedakan antara apa yang benar, yang sesuai dengan kehendak Allah dan apa yang bertentangan dengan kehendak-Nya.

Penutup
Sebagai PNS kita pun diminta untuk mempersembahkan tubuh kepada Tuhan sebagai persembahan yang berbau harum. Mempersembahkan tubuh berarti menjaga kekudusan hidup sambil mengerjakan misi Tuhan di dunia, yakni mewujudkan kasih, keadilan, kebenaran, perdamaian dengan Tuhan dan sesama. Hal-hal tersebut dapat kita lakukan mana kala ada tekad untuk memperbaharui batin agar seturut dengan kehendak Tuhan. Sikap transformtif (mempengaruhi batin dengan nilai-nilai positif yang kita yakini) perlu diambil sementara sikap konformisme ( ikut arus jaman) perlu dibuang. Kejahatan KKN yang lagi marak di negeri ini tidak bisa dicegah tanpa pemulihan batin setiap penyelenggara negara. Semoga!